Tentang Kami

PROGRAM Minapolitan yang digulirkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sejak 2009 semakin menggeliat. Diharapkan pada tahun 2011 akan terjadi percepatan peningkatan produksi dan pengembangan kawasan yang saling terpadu. Salah satu daerah yang paling diharapkan mampu adalah propinsi Riau dalam hal ini adalah Kabupaten Kampar yang telah ditetapkan sebagai salah satu daerah sebagai kawasan minapolitan di Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, saat membuka acara Catfish Day atau Hari Serba Ikan Berkumis ke-3 di Ballroom Hotel Ratu Mayang Garden Pekanbaru, Rabu (6/7). Jenis ikan yang dimaskud adalah Lele, Patin, Baung dan Selais yang menurutnya keempat jenis ikan ini mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan di Propinsi Riau.

Disebutkannya, selama kurun waktu 2007-2009 saja kenaikan rata-rata produksi komoditas patin dan patin selalu diatas 50% pertahun. Ia optimis produksi patin dan lele Indonesia mampu mencapai 2,7 juta ton pada tahun 2014. Saat ini sebagian besar produksi disalurkan untuk memenuhi pasar domestik sementara pasar ekspor sangat potensial terutama untuk negara-negara eropa dan Amerika.

Berdasarkan data dari Sekretariat Jenderal KKP, pada tahun 2011 alokasi untuk program Minapolitan sebesar Rp546, 8 miliar yang terdiri dari Rp364,78 miliar untuk percontohan berbasis perikanan tangkap. Lalu untuk perikanan budi daya Rp 141,12 miliar dan Rp58,96 miliar untuk pengembangan sentra garam.”Bahkan untuk propinsi Riau jika dibandingkan tahun lalu alokasi anggaran saat ini mengalami peningkatan dua kali lipat. Tahun lalu hanya 40,7 M. Tahun ini mencapai 98 Milyar lebih. Tentunya kita semua harus punya komitment memajukan dunia perikanan. Jika nantinya semakin maju anggaran tentunya akan saya naikkan dan begitu juga sebaliknya"ujar

Sejalan dengan kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menghendaki Indonesia menjadi produsen produk perikanan terbesar pada tahun 2015, maka Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya mencanangkan program peningkatan produksi dari 4,7 Juta Ton pada tahun 2009 menjadi 16,8 Juta Ton pada tahun 2014 atau meningkat 353 % selama lima tahun dan sesuai dengan misi Kelautan dan Perikanan yang ingin mensejahterakan masyarakatnya khususnya pembudidaya ikan, maka pada tahun 2011 dicanangkan kegiatan Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Perikanan Budidaya (PUMP-PB).

Kegiatan ini menurutnya dilaksanakan karena dilatarbelakangi bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat pembudidaya ikan masih tergolong miskin, dan salah satu upaya penanggulangan kemiskinan merupakan bagian dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan kesepakatan global untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium. Mulai tahun 2009 Kementerian Kelautan dan Perikanan telah melaksanakan program Pengembangan PNPM Mandiri Kelautan dan Perikanan dibawah koordinasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) dan berada dalam kelompok program pemberdayaan masyarakat.

“Upaya pengentasan kemiskinan di sektor kelautan dan perikanan tersebut, selanjutnya direncanakan dilakukan melalui pelaksanaan kegiatan Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) Perikanan Budidaya Tahun 2011 dalam rangka pengentasan kemiskinan melalui peningkatan produksi dan produktivitas usaha perikanan skala mikro,”ujarnya

PNPM Mandiri Kementrian Perikanan merupakan upaya kegiatan pemberdayaan diantaranya melalui fasilitasi bantuan pengembangan usaha bagi pembudidaya ikan dalam wadah Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan). Pokdakan merupakan kelembagaan masyarakat kelautan dan perikanan pelaksana PUMP-PB untuk penyaluran bantuan modal usaha bagi anggota. Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pelaksanaan PUMP-PB, Pokdakan didampingi oleh Tenaga Pendamping (Penyuluh atau PPTK) dan dilakukan peningkatan ketrampilan pendukung. Melalui pelaksanaan PUMP-PB diharapkan Pokdakan dapat menjadi kelembagaan ekonomi yang dimiliki dan dikelola pembudidaya ikan.

Untuk mencapai tujuan PUMP-PB, yaitu medorong peningkatan produksi, menumbuhkan wirausaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat perikanan budidaya di pedesaan, PUMP-PB perlu dilaksanakan secara terintegrasi dengan kegiatan KKP maupun Kementerian/Lembaga lain di bawah payung program PNPM Mandiri. Disamping itu, program PUMP-PB diupayakan juga dapat mendukung kegiatan pembangunan kawasan minapolitan khususnya minapolitan perikanan budidaya.

Dengan demikian kegiatan PUMP-PB diharapkan akan memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian target produksi perikanan budidaya serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pembudidaya ikan pada tahun 2011 dan tahun-tahun berikutnya.

Sementara itu Bupati Kampar Burhanuddin Husin kepada sejumlah wartawan menyampaikan rasa optimisnya akan mampu menjadikan Kampar sebagai salah satu kawasan minapolitan sebagaimana harapan yang disampaikan oleh Menteri.”Kampar memiliki banyak potensi untuk menjadi kawasan minapolitan. Dan kita optimis agenda ini akan sukses dan berjalan seperti apa yang kita harapkan,”ujarnya usai acara tersebut.

Usai memberikan sambutan dan meninjau pameran yang diadakan dihalaman hotel tersebut, Menteri bersama Bupati Kampar langsung meluncur menuju Desa Kampar untuk berdialog dengan petani ikan yang ada di kabupaten Kampar